Kesenian Wayang Golek Sudah Saatnya Membuat Mata Melek

kesenian wayang golek

Kesenian wayang golek semakin tertinggalkan oleh pesatnya kemajuan ilmu teknologi yang kian bertambah canggih serta muktahir dari segala segi pengoperasiannya. Kencangnya laju pertumbuhan ekonomi serta perluasan bidang industrial membuat aspek kebudayaan terlupakan oleh masyarakat khususnya mereka para penghuni kota metropolitan.

Keadaan carut marut akibat ketidak siapan bangsa Indonesia mengimbangi sejumlah update pembaruan hanya menambah kacau situasi terkini tanah air tercinta. Alih-alih memudahkan, nyatanya dampak mudharat dari percepatan segala macam divisi malah menjadi blunder karena memukul balik pemikiran kritis rakyat kita.

Generasi milenial benci menunggu terlalu lama tak peduli sedang melakukan kegiatan apapun bentuknya, pokoknya semua hal harus secepat kilat menyambar. Efek sampingnya? Terciptalah suatu budaya yang melahirkan golongan muda dan remaja berpikiran serba prematur karena matang sebelum waktunya panen tiba.

kesenian wayang golek saatnya melek

Mempelajari bidang penuntut kesabaran ekstra seperti menekuni kesenian daerah adalah suatu aktifitas membosankan sebab mereka menganggap kurang menantang serta minim keseruan. Kita dapat memakluminya, lantaran kegiatan mahal zaman dahulu kini lebih terjangkau seperti berkuda, golf, latihan menembak, atau surfing lebih menjanjikan.

Apabila kita terus membiarkan situasi genting macam ini, lambat laun semua jenis kesenian akan menghilang menyusul nasib malang wayang golek. Presiden beserta jajaran kabinet kementeriannya harus kompak bekerja sama dengan instansi daerah dan tentunya melibatkan peran masyarakat itu sendiri.

Kesenian Wayang Golek Bergeser Menjadi Hiburan Warga Kelas Tiga

Seni budaya wayang golek mestinya mendapatkan perhatian spesial terhadap upaya pelestarian semaksimal tenaga yang kita bisa keluarkan dari dalam tubuh. Seorang pengamat budaya senior Mas Ajip Rosidi pernah berkata, terlalu suram melihat masa depan kebudayaan wilayah terbelakang hingga posisinya mengkhawatirkan.

Kegelisahan mas Ajip bukannya tak beralasan, pasalnya ia merasakan firasat kuat akan memudarnya kasih sayang mula-mula bangsa Indonesia terhadap kesenian budaya. Penelitian dari sebuah lembaga survey terkemuka asal DKI Jakarta mengungkapkan bahwa grafik minat pencarian informasi wayang golek melandai turun tajam.

Pegiat kesenian wayang golek termashyur asli Indonesia, yaitu Asep Sunandar Sunarya bercerita masa lalu kejayaannya tatkala pagelaran wayang rajin masuk televisi. Bahkan, beliau sempat mengepalai ketua tim kreatif manakala dirinya terpilih membawakan acara terkenal bernama Asep Show di sebuah stasiun televisi swasta.

kesenian wayang golek hiburan kelas tiga

Asep Show adalah bentuk pengembangan berdasarkan akar kesenian wayang golek, namun mendapat tambahan sentuhan modern dengan tujuan beradaptasi terhadap zaman. Respon pemirsa cukup memuaskan, sebab acara beliau berhasil dapat jatah prime time menjelang maghrib berkat tokoh ikonik merah si Cepot.

Bagi kang Asep Sunarya, pertunjukan wayang golek tidak pantas menerima perlakuan remeh apalagi memandangnya seni murahan layaknya hiburan warga kelas tiga. Lebih jauh lagi, ia menganggap lakon boneka nyentrik wayang sebagai suatu mahakarya masterpiece mencakup seluruh unsur penunjang di atas panggung.

Saatnya Seni Daerah Bangkit Demi Memelihara Identitas Bangsa

Kang Asep melanjutkan penuturannya, bahwa kesenian wayang golek termasuk pementasan kompleks karena melibatkan serangkaian persiapan musikal, tarian, visualisasi, hingga teatrikal. Bagaikan merepresentasikan Bhinneka Tunggal Ika, wayang golek mempromosikan kemajemukan yang bersatu dalam keutuhan demi tujuan bersama mencapai sebuah kesuksesan.

Nilai keluhuran pentas seni wayang golek memenuhi setiap adegan terlakon di depan jutaan pasang mata penontonnya serta padat makna filosofis. Ia selalu konsisten menyajikan cerita kaya akan pesan moral sehingga mengedukasi menggunakan metode indirectly terkait gaya penyampaian bahasa dan nasihat.

Meriahnya budaya Kpop atau anime asal Jepang, terlalu gegap gempita hingga kemilau cahayanya menyilaukan mata hati segenap angkatan muda. Dewasa ini, serangan pengaruh asing begitu kuat menerpa mulai dari telenovela, Bollywood, Hollywood, harajuku, sampai terakhir kita rasakan Korean wave.

kesenian wayang golek identitas bangsa

Seandainya mampu menggiring sikap luhur serta mencontohkan budi pekerti positif, mungkin iklim negara ibu pertiwi tidak akan separah seperti sekarang. Sementara krisis identitas bangsa tengah mengancam, kebiasaan buruk dari luar negeri ikut memperburuk jati diri remaja bahkan orang dewasa.

Harmonisasi sinergi dari semua kalangan lapisan masyarakat tanpa terkecuali mestinya saling bahu membahu merapatkan barisan agar lingkungan kembali kondusif. Semoga pada suatu masa esok hari, matahari terbit menyinari bumi Indonesia supaya bersahaja senantiasa layaknya kesenian wayang golek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *