Kesenian Debus Fenomenal Otentik Milik Warga Banten

Kesenian Debus Fenomenal Otentik Milik Warga Banten

Kesenian debus kesohorannya sudah terkenal bukan hanya bagi rakyat Indonesia se-tanah air, melainkan warga manca negara pun menyatakan ketertarikan terhadapnya. Sorak sorai bersahutan bergantian bersama decakan kekaguman para penontonnya meriuhkan keheningan jalan sebelumnya, mendadak hingar bingar tatkala rombongan debus melewatinya.

Berulang kali pemirsa mengernyitkan dahi sambil memekik kecil pertanda keheranan melihat satu persatu aksi pemain debus melukai dirinya sendiri. Berbagai macam gaya gerakan ekstrim seperti mengiris lengan, menyayat lidah, hingga membacok tubuh merupakan penampakan lumrah dalam pagelaran debus.

Kesenian Debus Fenomenal Otentik Milik Warga Banten

Kesenian daerah otentik milik warga Banten ini sebetulnya masuk kategori berbahaya beresiko tinggi luar biasa, sehingga hanya profesional boleh melakukannya. Meskipun tidak mengeluarkan cipratan darah barang setetes pun, tetap saja judulnya mempermainkan dewa kematian alias mengolok-olok nasib nyawa nya sendiri berbeda jauh dengan wayang golek yang tidak berbahaya sama sekali.

Mempertontonkan anomali kemustahilan melampaui kemampuan nalar mencerna, pemeragaan acara debus tidak pernah gagal menyuguhkan sajian hiburan tradisional pemicu hormon adrenalin. Dapat kita simpulkan bahwa kekaguman tercipta dalam benak kita karena peristiwa menyiksa diri adalah pemandangan langka sepanjang umur hidup manusia.

Mempraktikkan debus bukanlah kegiatan universal, sebab tidak sembarangan orang mampu melakukan adegan pemacu keras dan kencangnya denyut jantung milik kita. Saking terlalu memorable, sering kali masyarakat sehari-hari bergurau seraya bergumam kalau ada orang sakti anti bacok pasti belajarnya di Banten.

Kesenian Debus Harus Mematuhi Ritual Khusus Sebelum Pementasan

Apabila kalian telah mengalami menonton kesenian debus waktu dulu masih kecil, jaminan 100 persen gambaran tiap atraksi masih terekam jelas. Walaupun saat itu pengalaman minim karena terlampau hijau, pastilah kita sadar bahwa debus berpotensi menimbulkan masalah besar apabila teledor memainkannya.

Kesenian Debus

Memahami bahaya yang mengintai depan mata telanjang, sepertinya orang lebih berminat jadi penonton saja daripada ikut berpartisipasi sebagai pelakon. Lagipula jelas sudah bahwasanya orang normal biasa pada umumnya tidaklah mungkin sanggup bermain debus tanpa dampingan para ahli potong – memotong.

Dalam kenyataan, rutinitas padepokan pada kesehariannya perlu mengamalkan banyak persiapan jauh-jauh sematang mungkin menjelang hari H pertunjukkan acara debus. Mulanya pemain akan menentukan media permainan sesuai selera dan tingkat kemampuan, seperti parang, pedang, golok, celurit, atau linggis tajam berkarat.

Setelah membiasakan diri dengan berlatih menggunakan senjata, pemain akan menjajal menerima serangan apakah tercipta luka atau tidak sama sekali. Ketika terbukti bebas dari terbentuknya sayatan menganga, tandanya si pemain tersebut bisa terbilang sudah menuju tahap kebal sehingga prosesi berlanjut.

Bukan hanya persiapan fisik, calon pementas seni debus juga perlu menguatkan mental serta menjaga perilaku dengan melakoni sejumlah pantangan. Beberapa paling terkenal biasanya seputar penyucian jiwa manusia, seperti larangan meminum alkohol, menghindari perjudian, menjauhi pencurian, hingga puasa berhubungan seks.

Debus Dulunya Sarana Menyebarkan Ajaran Muslim Ke Seluruh Nusantara

Sekilas pandang, rakyat biasa bakalan menganggap bahwa kesenian debus sarat akan kemusyrikan karena berkaitan dengan ilmu ghaib serta sihir mistis. Pendapat tersebut wajar adanya, pasalnya ketika kita bertemu pelaku kriminal tahan bacokan saja pasti langsung mengaitkan kejadian dengan terlibatnya iblis.

Ironisnya, gelaran debus pada tempo zaman kuno dahulu sangat jauh dari kesan klenik karena hanya semata menampilkan budaya asli masyarakat. Kehidupan penduduk setempat saat itu begitu menyukai genre musik lokal bernama gembung, lalu menutup acara dengan lantunan ayat kursi.

Menyebarkan Ajaran Muslim

Lebih lanjut lagi, setelah membacakan beberapa baris dzikir berisi kumpulan ayat suci, seluruh rakyat berkumpul bertujuan memuji kebesaran nama Tuhan. Prosesi ini sekaligus menjadi doa secara tidak langsung memohon selamat lahir bathin manakala akan mempertontonkan debus kepada khalayak ramai.

Jika menelusuri jauh ke halaman paling terbelakang, siapa sangka bahwa atraksi debus begitu lekat dengan ajaran Muslim sebelum masa penjajahan. Peta penyebaran keyakinan umat Islam dalam wilayah Nusantara meliputi seluruh tanah pulau Jawa mencakup segala kerajaan Hindu dan Buddha.

Pada tradisi warga Banten konservatif, menghafal serta melantunkan sebagian ayat tertulis di Alquran berfungsi melancarkan proses tubuh menjadi kebal. Secara turun temurun, budaya debus terwariskan sempurna tanpa distorsi berarti selama ratusan tahun usianya terbawa ke masa sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *