Hubungan Tato Dengan Yakuza Menjadi Momok Tersendiri di Jepang

Hubungan Tato Dengan Yakuza

Hubungan tato dengan yakuza hingga kini masih menjadi momok tersendiri yang menimbulkan ketakutan bagi warga umum Jepang yang melihatnya. Untuk mayoritas warga negara barat, tato bergambar lumba – lumba yang lucu dan menggemaskan pada tangan tidak masuk akal dianggap sebagai bandit, namun berbeda halnya pada negara Jepang.

Setiap penonton serta atlit rugby yang mampir ke Jepang tatkala hendak menyaksikan Piala Dunia dulu terpaksa menyembunyikan tatonya. Pemerintah tidak ingin warganya tersinggung oleh turis asing karena tato merupakan hal sensitif untuk memperlihatkannya di Jepang.

Menutupi tato menjadi suatu hal penting dan mendesak karena ia berkaitan erat dengan budaya sejarah terlahirnya yakuza sejak ratusan tahun lalu. Penulis bahkan sempat mewawancarai Anton Kusters, seorang warga asing yang pernah bekerja kepada yakuza sepanjang 2009 hingga 2011 silam.

Hubungan Tato Dengan Yakuza Menjadi Momok Tersendiri di Jepang

Anton mengaku bahwasanya orang Jepang memiliki pandangan yang terbagi dua secara garis besar ketika membahas tentang keberadaan yakuza. Sebagian menganggap bahwa eksistensi yakuza adalah sebuah kejahatan yang wajib ada demi keseimbangan yin – yang, sementara kubu lainnya menganggap bahwa itu adalah ancaman pada perdamaian lingkungan.

Menjadi yakuza pastinya dapat membawa tantangan tersendiri serta menyuguhkan pengalaman tak terlupakan pada siapapun mantan pengikutnya selama ini. Gaya hidup mereka sama persis seperti biasa terlihat di televisi, yaitu membunuh, merampok, berbisnis narkoba, perdagangan manusia, dalam skala yang lebih realistis dan terselubung rapi pastinya.

Hubungan Tato Dengan Yakuza Perlu Kita Telusuri Sejarahnya

Hubungan tato dengan yakuza tidak lepas dari perjalanannya yaitu sebab musabab awal kemunculan geng bandit ini di negara Jepang. Berbeda dengan perayaan festival kesenian Songkrang yang penuh keceriaan, tato merupakan seni underdog yang masih menjadi kontroversi hingga detik ini khususnya pada Jepang.

Negara matahari terbit tersebut memiliki catatan sejarah yang menyakitkan dengan seni melukis pada anggota tubuh manusia yang nyentrik ini. Sejumlah anggota mafia yakuza terkenal dengan karakteristiknya yang senantiasa menato sekujur tubuhnya hingga menutupi hampir seluruh badannya seperti mengenakan rompi.

Hubungan Tato Dengan Yakuza Perlu Kita Telusuri Sejarahnya

Personil yakuza juga menjadikan tato sebagai identitas tersendiri yang menunjukkan strata sosialnya dalam sebuah perkumpulan mafia. Desain tato yang rumit menandakan bahwa ia merupakan seorang makmur dan kaya raya sebab harganya pasti sangat mahal karena tato biasanya ditafsirkan tarifnya berdasarkan luas gambar pada tubuh.

Selain itu, tato yang memenuhi sekujur tubuh kerap kali dianggap sebagai penggambaran akan sisi maskulinitas seorang lelaki khususnya anggota yakuza. Dengan kata lain, pemilik tato tersebut pastilah orang kuat karena mampu menahan sensasi rasa sakit yang amat luar biasa manakala jarum rajah menusuk tubuhnya berulang kali demi menorehkan seni berupa tato.

Tato telah melekat sebagai budaya yakuza dari ratusan tahun lalu, namun larangan terhadap visualisasinya telah berhenti pada tahun 1948 yang lalu. Setelah melampaui 70 tahun, para pemilik tato secara general masih saja sulit mendapat penerimaan dari lingkungan sosial tempatnya hidup dan mencari nafkah.

Sulitnya Mengubah Pandangan Mengenai Tato di Jepang

Hubungan tato dengan yakuza yang terlanjur mendarah daging membuatnya sulit untuk mendapatkan citra positif dari masyarakat Jepang. Oleh sebab itu, sempat pula terjadi konflik manakala sedang tergelar Piala Dunia khusus rugby pada 2019 lalu yang tersandung kasus tentang kontroversi tato padanya.

Sekian banyak penonton maupun atlet rugby dari negara luar Jepang terpaksa menyembunyikan tato pada tubuhnya oleh pemerintah setempat. Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi peristiwa yang mampu menyulut kemarahan warga negara Jepang akibat rasa risih saat memandangi pemandangan tubuh penuh tato yang mampu membuat masyarakat Jepang bergidik ngeri.

Sulitnya Mengubah Pandangan Mengenai Hubungan Tato Dengan Yakuza

Salah seorang pegiat seni tato bernama Yutaro mengutarakan betapa frustasinya ia bekerja sebagai seniman tato di Jepang. Yutaro juga merupakan pemilik studio khusus tato ternama berjudul Red Point berlokasi di London, Inggris, dan bersedia menerima wawancara dari para jurnalis.

Yutaro berujar bahwasanya tato itu sendiri adalah seni netral yang merupakan bagian dari fenomena budaya selama ratusan tahun di dunia. Siapapun yang ingin menato tubuhnya pasti menghargai karya seni serta hendak membanggakan sensasi tertentu yang hanya bisa didapatkan dengan merajah tato.

Yutaro menyayangkan sifat kolot mayoritas warga negara Jepang yang masih menganggap bahwa tato merupakan sebuah hal tabu. Mereka sangat sulit keluar dari pola pikir sempit yang menilai bahwa pemilik tato pastilah merupakan orang yang hidupnya penuh dengan tindakan kriminal serta perbuatan tidak terpuji lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *